Jumat, 14 Maret 2014

Kisah Pita Kuning

Diposting oleh Naya tillah di 10:23 0 komentar
   Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam- malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan istrinya.

   Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex, gambling, drug. Dia menikmati semuanya.

   Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang. Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara.

   Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya. Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya. Dia berharap dia masih boleh kembali. Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan menulis, "Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku."

   Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya? Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu, "Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan- pelan...kita mesti lihat apa yang akan terjadi..."

   Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Keringat dingin mengucur deras. Akhirnya dia melihat pohon itu. Air mata menetas di matanya...

   Dia tidak melihat sehelai pita kuning...

   Tidak ada sehelai pita kuning....

   Tidak ada sehelai......

   Melainkan ada seratus helai pita-pita kuning....bergantungan di pohon beringin itu...Ooh...seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning...!!!

   Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, "Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree", dan ketika album ini di-rilis pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973.Sebuah lagu yang manis, namun mungkin masih lebih manis jika kita melakukan apa yang disiratkan oleh liriknya.

Yellow Ribbon

ON ROUND THE OLD OAK TREE ON ROUND THE OLD OAK TREE

I'm coming' home, I've done my time
Now I've got to know what is and isn't mine
If you received my letter telling you I'd soon be free
Then you'll know just what to do
If you still want me
If you still want me
Whoa, tie a yellow ribbon 'round the old oak tree
It's been three long years
Do ya still want me?
If I don't see a ribbon round the old oak tree
I'll stay on the bus
Forget about us
Put the blame on me
If I don't see a yellow ribbon round the old oak tree
Bus driver, please look for me
'cause I couldn't bear to see what I might see
I'm really still in prison
And my love, she holds the key
A simple yellow ribbons what I need to set me free
I wrote and told her please
Whoa, tie a yellow ribbon round the old oak tree
It's been three long years
Do ya still want me?
If I don't see a ribbon round the old oak tree
I'll stay on the bus
Forget about us
Put the blame on me
If I don't see a yellow ribbon round the old oak tree
Now the whole damned bus is cheering
And I can't believe I see
A hundred yellow ribbons round the old oak tree
I'm coming home
I'm coming' home, I've done my time
Now I've got to know what is and isn't mine
If you received my letter telling you I'd soon be free
Then you'll know just what to do
If you still want me
If you still want me
Whoa, tie a yellow ribbon 'round the old oak tree
It's been three long years
Do ya still want me?
If I don't see a ribbon round the old oak tree
I'll stay on the bus
Forget about us
Put the blame on me
If I don't see a yellow ribbon round the old oak tree
Bus driver, please look for me
'cause I couldn't bear to see what I might see
I'm really still in prison
And my love, she holds the key
A simple yellow ribbons what I need to set me free
I wrote and told her please
Whoa, tie a yellow ribbon round the old oak tree
It's been three long years
Do ya still want me?
If I don't see a ribbon round the old oak tree
I'll stay on the bus
Forget about us
Put the blame on me
If I don't see a yellow ribbon round the old oak tree
Now the whole damned bus is cheering
And I can't believe I see
A hundred yellow ribbons round the old oak tree

I'm coming home

Minggu, 12 Januari 2014

Ribbon's Mean

Diposting oleh Naya tillah di 19:20 0 komentar
   Di sela-sela ujung jari ku terlihat bercak kecil berwarna merah. Bukan darah tetapi tinta. Bercak ini mengingatkan ku tentang kejadian indah yang terjadi kemarin. Kejadian yang benar-benar tak akan ku lupakan dan selalu terbayang di memori ingatan ku. Kejadian yang terjadi secara kebetulan yang langsung mengikat ku dengan suatu takdir.

***

   Di atas rumput yang begitu hijau bersama dengan bunga-bunga yang sedang bermekaran di musim semi dan sebagai momen jatuhnya kelopak-kelopak sakura yang indah. Tahun ajaran baru Akaisora Gakuen telah dimulai. Aku memasuki pintu gerbang yang terbuat dari besi yang di cat putih dengan mengenakan almamater sekolah yang berwarna biru tua, dasi merah yang membentuk pita lucu yang menggantung di leher dan kerah baju, rok pendek khas sekolah berwarna merah bermotif kotak-kotak, dan sebuah tas sekolah yang berisi bawaan yang cukup berat.

   Anak-anak yang baru di cap sebagai siswa SMA dan murid sekolah ini mulai masuk ke gedung sekolah. Banyak yang bersama-sama dan tidak sedikit pula sendiri seperti ku. Akaisora Gakuen merupakan sekolah yang memiliki akreditasi yang tinggi. Dengan melalui berbagai macam tes dan wawancara yang sulit, tidak heran siswa-siswa di sekolah ini memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi.Tidak seperti ku, untuk masuk ke sekolah ini butuh perjuangan yang benar-benar keras. Aku menggunakan liburan panjang untuk belajar keras. Tidak sia-sia aku belajar keras karena memang sekolah ini impian ku sejak lama. Dari sepuluh orang pendaftar dari Hikari Chuugakkou hanya tiga orang yang lulus di sini. Aku—Akaishina Yuki—, Mizuhime Minori, dan Yaminato Kaito.

   "Yu-chin Oha!" Sapa Minori yang terlihat histeris. Minori adalah teman ku dari Hikari, orangnya selalu ceria dan bersemangat. Dia sedikit lucu menurut ku, tadi saja Ohayo disingkat Oha. Banyak sapaan yang tidak formal dari Minori, contohnya Yu-chin, Yu-nyan, Yu-pi, dan lain-lain. "Pita berwarna merah, apa yang akan terjadi hari ini Yuki-chan?" Tanya Kaito yang menyusul di belakang Minori. Dengan senyuman dan satu kedipan aku katakan "Aku tidak tahu, tapi pasti hari ini akan menyenangkan!".

   Aku adalah orang suka mendeskripsikan mood hari ini dengan warna pita. Warna pita-pita yang selalu berada di atas kepalaku dan melingkari bagian rambut ku adalah hitam, putih, kuning, merah, biru, coklat, dan orange. Sedangkan warna pita yang belum pernah ku pakai yaitu Ungu dan merah muda. Pita hitam melambangkan Sifat ingin balas dendam, licik, atau curang. Putih bersifat tenang dan dingin. Kuning terlihat cerah dan riang. Merah terlihat marah atau menemukan sesuatu yang menarik. Biru terlihat bahagia. Coklat berarti hangat. Dan orange berarti Segar dan semangat. Sedangkan yang belum pernah ku pakai yaitu Ungu yang belum ku ketahui maknanya dan merah muda untuk cinta. Impian ku adalah Sekali saja aku ingin memakai pita merah muda tersebut.

   "Yu-nyan, Yu-nyan! Aku menemukan nama mu dan nama Kaito-kun" Teriak Minori yang berdesak-desakan di depan papan pembagian kelas tahun ajaran baru. "Kabar baik? Aku masuk kelas apa?" Teriak ku kembali ke Minori. Tidak ada jawaban. Dengan tampang lesu Minori berjalan ke arahku dan tiba-tiba memeluk ku "Yu-piii, iniiiiii kabar buruuuuuuk. Kita tidak berada di kelas yang samaaa huhuu" "Aku di kelas 1-F, Kaito 1-E, dan Yuki-mi kelas 1-C" Ujar Minori terlihat sedih. "Minori tak apa-apa kita masih satu sekolah kok" Ujar ku ke Minori.

   Aku berjalan sendirian melewati koridor sekolah menuju kelas di mana aku akan belajar selama setahun di sana. Kelas 1-C, ketika ingin masuk tiba-tiba aku bertabrakan dengan seorang pria yang ingin keluar kelas. "Maafkan aku, a-aku tidak sengaja" pinta ku. Tiba-tiba pria tersebut berdiri dan mengambil kacamata minus yang jatuh ke lantai. "Aku juga minta maaf, kacamata ku untung tidak pecah" Dengan tatapan yang dingin dia berlalu melewati ku.

To be Continued Later

Selasa, 07 Januari 2014

Two Words

Diposting oleh Naya tillah di 23:20 0 komentar
   Dua kata, UL. Seseorang yang benar-benar lemot dan nggak peka dialah UL alias Unlimited Lemot. Akulah yang menamainya seperti itu. Orang itu, aku menyukainya sejak hari pertama masuk kelas. Sejak saat itu pandanganku darinya tidak pernah lepas, mungkin dia tak menyadarinya. Aku tidak tahu alasannya kenapa, ini benar-benar terjadi begitu saja. Pada saat itu UL terpilih sebagai calon ketua kelas dan aku memilihnya dan benar-benar berharap dia yang terpilih walaupun temanku menyuruhku—mungkin lebih tepatnya menyarankanku untuk memilih seseorang.

    Dia Lemot, sebenarnya tidak kok orangnya pintar cuman gara-gara ada teman yang lagi bicara-bicara trus dia lemot banget hihi. It's first sight. Satu semester sudah berjalan dan keadaan sudah semakin nyesek saja. Karena sahabatku dan sahabatnya sedang menjalani relationship Kami jadi sering bersama, walaupun tidak pernah sekalipun berdua apalagi dekat. Jujur, aku tidak mengharapkan begitu. Aku bersama beberapa orang lainnya sering tinggal di sekolah sampai sore untuk belajar mempersiapkan ujian semester walaupun ujung-ujungnya bercerita saja. Aku bersama tiga orang temanku dan Ul bersama tiga temannya dan pendatang baru dari kelas lain. Benar-benar menyenangkan!.

   He was a skater boy, celebes on his guitar. UL pernah memainkan gitarnya beberapa kali. Aku sih tidak begitu tertarik, tapi benar-benar applause for him aku pernah memperhatikannya memainkan nada yang indah. Sampai akhirnya karena kejadian itu sahabatku menyukainya, sahabatku, sahabatku!. Alasannya benar-benar tidak masuk akal dan membuatku muak "Karena dia keren". Aku tidak begitu memperhatikannya, jadi aku tidak tahu. Dan aku mulai mendengar beberapa kabar bahwa seseorang menyukainya, seseorang lagi, seseorang lagi, sampai-sampai sebuah relationship menjadi hancur karena sang gf menyukai Ul. Aku tidak tahan lagi!.

   Aku memutuskan mulai saat ini aku mulai membencinya. Aku ingin melupakan perasaanku ini kepadanya. Aku bahkan mulai memaki-makinya. Berselang waktu aku belum juga melupakannya bahkan dia ada di pikiranku setiap saat. Dan akhirnya aku tidak jadi, pernah aku merasa fangirling karenanya, memalukan!. Jadi, sampai sekarang aku kembali menyukainya, maafkan aku biarpun juga ini memang bukan salahmu. Back to my friend, dia masih menyukai Ul di dirinya walaupun dia berbohong untukku tapi aku tahu. Watashi no saikou no tomodachi, gomen-ne!.

   Ul, terima kasih atas segalanya. Pernyataan ini untukmu dan akan ku tunjukkan saat naik kelas nanti sesuai janjiku. Pernyataan ini tidak berarti apa-apa, aku tidak meminta any relationship ataupun respon darimu. Aku hanya ingin membuktikan janjiku agar kau mengetahuinya. Ya Terima Kasih! ^_^

Rabu, 01 Januari 2014

Hatsune Miku - Ai Kotoba

Diposting oleh Naya tillah di 12:34 0 komentar
itsumo boku no kodomo ga 
osewa ni natteiruyou de 
kiitekureta anata kata ni 
kansha, kansha.

Always, my children 
will be indebted to you 
You listened at your side, 
Thanks, thanks.

kono goon wo isshou de wasurenai uchi ni 
uchi ni himeta omoi totomoni 
uta ni shitemimashita. 
ai kotoba wa "ai ga too = arigatou"

This honorable favor, I won't forget it inside me for a lifetime 
I kept it secret inside me together with these feelings 
I tried to put it as a song. 
The words of love are "Your love is tenfold = Thank you"

boku toka kimi toka koi toka ai toka 
suki toka kirai toka 
mata utau ne.

The matters about myself, about you, about romance, about love 
About liking, and about hating 
I sing them again.

ima kimi ga suki de 
teka kimi ga suki de 
mushiro kimi ga suki de 
konna baka na boku wo kimi wa suki de 
aishitekurete. 
konna uta kiite naitekurete 
arigatou.

Now, I like you 
That said, I like you 
Instead, I like you 
You like this stupid me 
You give me love. 
You listen to this song and cry for me 
Thank you.

itsuka boku no kodomo ga juumansai no tanjoubi 
mukaeta toki, iwattekurete sanjuuku mashita

Someday, on the hundred-thousandth birthday of my children 
The time you meet them, congratulate the thirty-nine of them

kono goon wa isshou de kagirareta jikan de 
umareru kyoku to shi ni nosete 
kimi ni todokeru yo 
korekara mo douka yoroshiku ne

This honorable favor, for a lifetime, 'til this limited time 
I'll record it as music and song of birth 
It will reach you 
From this point onwards, please take care of us

boku toka kimi toka koi toka ai toka 
suki toka kirai toka 
mada tarinai?

The matters about myself, about you, about romance, about love 
About liking, and about hating 
Are these not enough?

jaa 

Then

"kinou nani tabeta?" 
"nani shiteta?" 
"nankai boku no koto omoidashita?" 
konna koto hanashitemiyou ka!

"Yesterday, what did you eat?" 
"What were you doing?" 
"How often did you remember about me?" 
Why won't you try asking me these?

"kimi tabeta." ...baka. 
"nani shiteta." ...baka. 
"kimi no koto nanka 
wasurechatta yo." ...baka.

"Did you ate."     ...stupid. 
"What were you doing."      ...stupid. 
"I think I already 
forgot about you."          ...stupid.

kimi ga suki de 
tteiu no wa uso de 
honto wa daisuki de. 
kizutsuketakunakute 
demo 
kimi ga suki de 
aishitekurete 
"konna uta atta ne" tte 
kimi to waraitainda

I like you 
--No, that's a lie 
I truly love you. 
I didn't want to hurt you 
But 
I like you 
You give me love 
Saying, "There was a song like this" 
I want to laugh with you

(boku mitai na kimi 
kimi mitai na boku 
niteru kedo chigatte 
chigatteru kara niteru

(You that look like me,  
I that look like you 
We resemble but we differ 
'Cause we both differ, we resemble

suki da yo toiu tabi ni 
fueru suki no kimochi wa

I really like you, I say it a lot of times 
My feelings of love for you will increase

boku kara takusan no kimi he no)

From me, I'll give a lot of these to you)

ai kotoba 


These words of love


*English is the translation

Selasa, 31 Desember 2013

Auburn - Perfect Two

Diposting oleh Naya tillah di 16:18 0 komentar
Oh, oh
Yeah, yeah

You can be the peanut butter to my jelly
You can be the butterflies, i feel in my belly 
You can be the captain and i can be your first mate
You can be the chills that i feel on our first date

You can be the hero and i can be your side kick 
You can be the tear that i cry if we ever split 
You can be the rain from the cloud when it's stromin' 
Or you can be the sun when it shines in the mornin'

Don't know if i could ever be 
Without you 'cause boy you complete me 
And in time i know that both see 
That we're all we need

'Cause you're the apple to my pie (pie) 
You're the straw to my berry (berry) 
You're the smoke to my high (high) 
And you're the one i wanna marry (marry)

Reff :

Cause you're the one for me (for me)
And I'm the one for you (for you)
You take the both of us (of us)
And we're the perfect two
We're the perfect twoWe're the perfect two
Baby me and you
We're the perfect two

You can be the prince and I can be your princess
You can be the sweet tooth I can be the dentist
You can be the shoes and I can be the laces
You can be the heart that I spill on the pages
You can be the vodka and I can be the chaser
You can be the pencil and I can be the paper
You can be as cold as the winter weather
But I don't care as long as we're together

Don't know if I could ever be
Without you 'cause boy you complete me
And in time I know that we'll both see
That we're all we need

Cause you're the apple to my pie
You're the straw to my berry
You're the smoke to my high
And you're the one I wanna marry

Cause you're the one for me (for me)
And I'm the one for you (for you)
You take the both of us (of us)
And we're the perfect two
We're the perfect two
We're the perfect two
Baby me and you
We're the perfect two

You know that I'll never doubt you
And you know that I think about you
And you know I can't live without ya
I love the way that you smile
And maybe in just a while
I can see me walk down the aisle

Cause you're the apple to my pie
You're the straw to my berry
You're the smoke to my high
And you're the one I wanna marry

'Cause you're the one for me (for me)
And I'm the one for you (for you)
You take the both of us (of us)
And we're the perfect two
We're the perfect twoWe're the perfect two
Baby me and you
We're the perfect two

Senin, 30 Desember 2013

Melody of the Soul

Diposting oleh Naya tillah di 19:56 0 komentar
"Alice, ayo pulang sepertinya kita tidak menemukannya disini." Ucap Luna dengan nada setengah merengek.
Setelah berkeliling memutari Westside-Shopping Centre di Bern, kami akhirnya lelah karena tak menemukan barang yang kami cari.
"Ayolah, Alice aku sudah sangat lelah. Tak apa, kita akan membelinya lain kali, lagipula ini sudah malam."
"Jangan Pesimis, kita akan segera mendapatkannya. Ayo!" Ujarku sambil menarik tangan Luna.
Luna Quintessa, Sahabat seperjuanganku yang sangat berharga, kami selalu bersama dari kecil. Dia adalah orang yang sangat baik, cantik, tapi kadang-kadang menjengkelkan dan menggemaskan.
Kami berdua kembali berjalan mencari barang yang kami cari, sebenarnya aku juga lelah tetapi sesuatu yang kami cari ini adalah benda yang penting.
Namun langkahku terhenti melihat banyak orang berkerumun membentuk lingkaran besar. Kemudian aku meninggalkan Luna dan mencari tahu apa itu.
Dengan sesak aku memasuki kerumunan tersebut. Aku tidak tahu kenapa aku ingin melakukan ini tapi aku benar-benar ingin melihatnya.
"Minna-san, Konbanwa." Seorang pria yang menjadi pusat perhatian orang-orang pun mulai mengucapkan salam sambil tersenyum hangat di balik kacamata yang bertengger di hidungnya dengan bahasa Jepang. (Semuanya, selamat malam)
Maksudku kenapa Dia berbahasa Jepang? padahal di sini Bern, Swiss yang sebenarnya adalah lingkungan berbahasa Jerman.
Suasana hening seketika, pria itu mulai memetik gitar yang di pegangnya, kali ini lagu yang ia mainkan bukan bahasa Jepang tetapi bahasa Jerman.
Aku terpesona, suaranya begitu jernih dan terasa nyaman. Aku begitu menikmatinya sampai akhir lagunya. Tiba-tiba setetes air jatuh di atas kepalaku yang semakin lama semakin banyak dan akhirnya deras, hujan turun dengan deras dan membuat orang-orang berlarian untuk mencari tempat yang teduh.
Aku mulai merasakan tubuhku basah tetapi itu membuatku tetap tidak beranjak dari tempatku berdiri.
Di sini, di tengah derasnya hujan dan lampu malam yang bersinar, tinggal kami berdua. Pria itu menyelesaikan lagunya, mungkin ia akan segera berdiri pikirku.
Lagunya berakhir. Pria itu diam sejenak dan menatap langit, tiba-tiba tatapannya tertuju kepadaku. Ia memetik gitarnya dan mulai melantunkan sebuah melodi, musik klasik karya Bethooven - Moonlight Sonata.
Deg!
Ini adalah musik favoritku, musik yang dimainkan dengan piano kini tepat di depanku pria yang tak ku kenal memainkannya dengan gitar.
Aku tak merasakan tubuhku basah. Aku tak merasakan dinginnya hujan. Yang kurasakan saat ini adalah sesuatu yang hangat dari dalam diriku. Lantunan musik nya yang memukau membiusku. Suaranya, permainannya, musiknya, dan waktunya bersamaku. Berdua di tengah hujan, sonatanya yang indah, seumur hidup Aku tak akan melupakannya.
Moonlight Sonata selesai di mainkan, Aku bertepuk tangan sekeras-kerasnya dan tersenyum selebar-lebarnya. Pria itu juga tersenyum, oh! itu membuat ku merasa bahagia. Di dalam kacamata hitam dan langit malam aku merasakan sesuatu yang tidak dapat kulukiskan dengan kata-kata.
Pria itu bergerak, membuka jaket yang ia pakai kemudian melemparkannya padaku. Lalu ia berdiri dari tempat nya, berbalik, bergegas sambil membawa gitar nya, berjalan meninggalkanku, dan akhirnya dia pun berlari.
Mata ku buram karena derasnya hujan. Aku menatap jaket yang kupegang saat ini lalu memakai nya―mungkin dia menginginkan ku memakai nya.
Sekarang aku sendiri disini di tengah derasnya hujan, berdiri sambil mengingat kenangan yang terjadi beberapa menit yang lalu.
Pria itu, siapa ya?
Ha! Aku baru menyadari bahwa saat ini hujan deras. Dengan sigap Aku berlari menuju tempat teduh, Aku merasakan beberapa pasang mata memperhatikanku dari dan tadi rasanya malu setengah mati.
Hujan telah berhenti tapi Aku mulai merasa kedinginan karena basah kuyup.
Terdengar ada suara yang memanggilku. Oh itu Luna "Alice bodoh! kau darimana saja dari tadi? kau tahu aku mencarimu terus menerus dan ternyata kau berada di guyuran hujan bersama seorang pria asing lalu membiarkan dirimu basah kuyup." Celoteh Luna yang sangat kesal.
"Maafkan aku. Ayo pulang aku serasa menggigil di sini." Ucapku sambil menggigil kedinginan.
***
Di dalam kamar, aku duduk termenung sambil di temani segelas cokelat panas yang uapnya menghambur. Aku berpikir memoriku hari ini harus di abadikan melalui tulisan. Segera aku mengambil buku harian, buku harian ini berwarna merah dengan simbol melodi berwarna perak disampulnya. Jemariku kini sibuk menuliskan peristiwa yang terjadi hari ini dengan pena bulu. Pena bulu ini adalah hadiah ulang tahun dari kakek ku yang telah bertahun-tahun ia miliki. Aku merasa nyaman saat memakainya.
Setelah tulisanku selesai aku menatap sebuah jaket yang Pria Hujan berikan padaku-Aku menyebutnya Pria Hujan karena dia menyanyi di bawah derasnya hujan.
"Pria itu namanya siapa ya?"
"Dia tinggal di mana?"
"Apa dia tidak kedinginan, kuharap dia baik-baik saja."
Berbagai pertanyaan tentangnya membanjiri otakku. Dasar pria bodoh. Apa yang muncul dipikirannya untuk bernyanyi dibawah hujan.
Bukannya kau juga bersamanya, Alice?
Aku memikirkannya bukan berarti aku terbius oleh suaranya. Hanya saja caranya melantunkan benar-benar indah, seperti itu.
Ini hanya perasaanku, mungkin.
Tetapi, tanpa sadar aku merasa telah terikat olehnya.
Nao, 2013

 

ぴこ仮 の 愛 Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review